Dari
seluruh rangkaian film-musik Les Miserables, babak lagu ‘One Day More’ ini
adalah salah satu yang paling berkesan.
Satu hari
lagi. Apakah artinya bagi manusia? Apakah yang esok akan bawa? Babak ‘one day
more’ ini mengisahkan pergulatan tiap sosok anak manusia melihat hari esok.
Kuatir. Gelisah. Harapan. Takut. Mimpi.
Inilah juga
salah satu kekuatan keindahan novel karya Victor Hugo ini, rangkaian cerita
yang beralur banyak. Kaya akan kisah hidup manusia dengan masing-masing
pergumulan mereka.
VALJEAN
One day more! (Satu hari lagi)
Another day, another destiny.(Hari lain, nasib lain)
This never-ending road to Calvary; (Jalan tak berujung ke Kalvari)
These men who seem to know my crime (Orang-orang ini seperti mengetahui kesalahanku)
Will surely come a second time. (Tentu akan datang lagi)
One day more! (Satu hari lagi)
Satu hari
lagi. Bagi Jean Valjean, esok adalah ketidakpastian, setelah sepanjang hidupnya
dia ditindas, dikejar-kejar oleh ‘hukum’.
Jean Valjean
dipenjara selama 19 tahun karena mencuri sepotong roti. Sekerat roti saja, yang
dia curi untuk menyelamatkan nyawa keponakannya yang kelaparan. Setelah dia
menyelesaikan masa 19 tahunnya, dia masih harus melapor setiap tahun sampai
akhir hayatnya dan membawa stigma surat sebagai narapidana. Sebuah belenggu
yang sama saja membunuhnya pelan-pelan.
Apa yang
salah? Bukankah hukum memang seperti itu?
Mata ganti
mata.. dan hati menjadi batu – demikian lirik lagu yang Valjean nyanyikan.
Valjean
berubah karena bertemu dengan seorang bishop di sebuah kapel sederhana. Setelah
diusir di mana-mana, sang bishop tua mengajaknya masuk, memberinya makan, dan
memberinya tempat tidur. Dini hari, dia mencuri perangkat makan perak dan
melarikan diri. Polisi menangkap dan menyeretnya ke hadapan sang bishop. Di
luar dugaannya, sang bishop malah menegurnya, “Mengapa kamu pergi terburu-buru
sampai kelupaan membawa tempat lilin dari perak ini? Bukankah sudah kukatakan
bawa juga ini, sudah lama benda ini diam di sini tak berguna, tentunya lebih
berguna di tanganmu.”
Bukankah
berbohong itu dosa? Secara hukum agama maupun secara hukum negara, andaikan
sang polisi tahu, tentu saja dia akan terjerat masalah.
Sang bishop
memberkatinya dan berpesan agar perangkat perak ini dia gunakan untuk berbuat
jujur dan bahwa dia telah mempersembahkan Valjean bagi Allah.
Selama hidup,
tidak pernah saya bertemu dengan pendeta, pastor, rohaniwan Kristiani yang mau
berbuat seperti itu. Maukah seorang pendeta yang mapan, menerima seorang
buronan, memberinya makan dan tumpangan? Kemudian ketika keesokan harinya, dia
menemukan orang yang ditolongnya tertangkap basah dengan barang berharga yang
dicuri dari rumahnya, bukan hanya dia mengampuni, bahkan menambahkan dengan
barang berharga terbaiknya dan memberkatinya? Akankah ada orang yang mau
mengambil resiko dengan membohongi polisi, untuk seorang manusia yang tidak
dikenalnya sama sekali?
Saya tidak
pernah bertemu seumur hidup saya dengan rohaniwan seperti itu.
Saya sendiri
tidak mampu berbuat seperti itu. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa menemukan
manusia seperti itu.
Inspektur
Javert adalah kebalikan dari sang bishop. Dia percaya bahwa tugasnya untuk
menegakkan hukum adalah tugas Illahi. Hukum adalah hukum. Orang yang bersalah
pantas dihukum seberat-beratnya. Hukum harus ditegakkan di atas segalanya,
dengan pengorbanan apa pun. Di matanya, orang seperti Valjean adalah sampah
masyarakat yang tidak punya harapan. ‘Fallen from grace’ – seperti lirik
lagunya mengungkapkan. Hukum tidak mengenal belas kasihan. Hukum di atas belas
kasihan. Hukum bahkan tidak peduli esensi kebenaran, karena mereka berpikir dia
di atas kebenaran.
Bukankah
mudah kita lihat di sekeliling kita, orang-orang suci yang melaksanakan tugas,
perang, misi Illahi, walaupun itu menindas belas kasihan. Dengan nama hukum
atau nama Tuhan atau nama cita-cita atau ideologi atau sesuatu yang mulia,
tetapi melupakan belas kasihan dan menyisakan kekejaman. Bukan hanya
segerombolan orang, bahkan juga negara. Sebuah negara super power yang selalu
mengkritik negara lain akan hak asasi manusia, misalnya – tetapi memiliki kamp
penyiksaan yang keji, yang dibangun di luar wilayahnya (untuk mempelintir
hukum).
Dalam
kerohanian, hidup dalam hukum penuh dengan penghakiman, ketakutan, karena hukum
tidak pernah puas. Alas, pendeta lebih senang menggunakan hukum di atas mimbar
untuk menekan, menakuti jemaat karena mereka akan lebih mudah dikendalikan
untuk kepentingan sang pendeta, atas nama hukum Tuhan.
Bishop Myriel
adalah gambaran kasih karunia. Karena yang dikehendakinya adalah belas kasihan
dan bukan hukum.
Valjean
mendedikasikan hidupnya untuk membesarkan Cosette, putri Fantene, seorang bekas
karyawannya yang berusaha dia tolong. Valjean tidak tertarik akan politik,
belas kasihannya pada Fantene tulus dan tidak ada romans di antara mereka. Dia
tidak memiliki ideologi yang besar dan ‘mulia’ seperti untuk mendirikan negara
baru, yang dia lakukan hanyalah belas kasihan yang sederhana.
Dan hukum
tidak pernah melepaskannya dan selalu mengejar-ngejar hidupnya.
Itulah saat
babak “one day more” mulai. Esok bagi Valjean adalah sederhana. Esok adalah
untuk tetap hidup. Hidup yang dijalaninya seperti yang dipesankan oleh sang
Bishop, bahwa jiwanya telah dipersembahkan kepada Allah.